Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan

Rekomendasi Link Cara Cantik Mengikat Scarf

The BT Standard Tying Scraf for the Adventurous
Scarf terdiri dari berbagai jenis motif dan bahan. Baju berwarna hitam polos dapat dipadupadankan dengan menggunakan scarf berbahan sutra tipis motif bunga diikat di leher maka anda akan terlihat elegan dan ceria. Padanan busana broken white Anda dengan scarf etnik membuat Anda tampil penuh cita rasa seni 
Scarf digunakan untuk melindungi leher dari dinginnya udara sekitar atau disebut juga penangkal hawa dingin. Scarf  bisa juga menjadi asesoris tas, digantung di celana atau menjadi penghias furnitur di acara pesta-pesta. Scarf dapat menjadi hiasan yang digunakan untuk memperindah dan mempercantik penampilan. Beberapa daerah di Indonesia memiliki ciri khas motif kain, termasuk scarf. Jika dahulu scarf menjadi simbol kehormatan seseorang, saat ini scarf hanya digunakan sebagai aksesoris dan juga sebagai cendramata.
Aksesoris merupakan hal kecil namun penting untuk memperindah penampilan. Scarf merupakan aksesoris yang dapat dipadankan dengan kemeja maupun kaus yang menunjang penampilan terutama pada saat musim dingin. scraf juga sangat membantu dalam penampilan hal ini ditentukan oleh pemilihan warna, bentuk dan bahan.
Berikut rekomendasi link tentang variasi mengikat scarf

dan banyak lainnya tersedia informasi di Google ^_^
salam kreasi !
 
 
Bookmark and Share

Imajinasi Keraton Masa Lalu : Candi Ratu Boko



Bulan Juni diawalai dengan wisata candi. Salah satu candi cantik di DI Yogyakarta, yaitu “Ratu Boko”. Keberadaan candi tersebut termasuk dalam Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Kompleks candi Ratu Boko berada 196 meter dpl (jalan yang agak menanjak dan udara sejuk) dan dapat diakses dari kota Jogja melalui jalan raya Prambanan – Piyungan, yaitu dari pertigaan Prambanan ke selatan sejauh kurang lebih 4 km dan mengikuti papan petunjuk menuju candi Ratu Boko. 

Gerbang Kedua dari Candi Ratu Boko

Berbeda dengan peninggalan sejarah pada masa Jawa Kuno dalam bentuk bangunan keagamaan, candi Ratu Boko merupakan kompleks bangunan keraton, yaitu gerbang pintu masuk, pendopo, tempat tinggal, kolam pemandian, pagar pelindung, dan beberapa situs yang masih dipelajari untuk memperkirakan fungsinya di masa itu. Berbeda dengan keraton yang didirikan di permukaan landai, keraton candi ratu Boko terletak di dataran tinggi dilengkapi dengan benteng tinggi sehingga terlindungi dari serangan musuh. 

Candi Ratu Boko merupakan situs arkeologi dalam bentuk keraton pada masa Kerajaan Mataram Kuno abad VIII dan dibangun pada masa Dinasti Syailendra oleh Rakai Panangkaran jauh sebelum keberadaan raja Samaratungga (pada masa pendirian candi Borobudur) dan Rakai Pikatan (pendirian candi Prambanan). Berdasarkan naskah kuno ditulis oleh Rakai Panangkaran (746 – 784 SM) pada mulanya bangunan sekitar Ratu Boko disebut dengan Abhayagiri Wihara. Abhaya berarti damai, dan Abhayagiri berarti asrama Buddhist (wihara) yang berada di daerah damai di puncak bukit. Pada periode selanjutnya (856 – 863 SM) Abhayagiri Wihara berubah nama menjadi Walaing Kraton oleh Vasal Rakai bergelai Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Selanjutnya, nama Ratu Boko berasal dari dongeng rakyat setempat. Ratu Boko adalah raja dan merupakan ayah dari Loro Jonggrang dimana merupakan nama dari candi di kompleks candi Prambanan.
Kompleks candi terdiri dari :
  • Gerbang Utama : terdiri dari dua gerbang dimana gerbang pertama terbuat dari batu andesit dan lantai serta dinding terbuat dari batu putih. Gerbang pertama berukuran panjang 12,15 m, lebar 6,90 m, dan tinggi 5,05 m dengan 3 pintu masuk. Sementara gerbang kedua memiliki panjang 18,60 m, lebar 9,00 m, dan tinggi 4,50 m dengan 5 pintu masuk.
Gerbang Pintu Masuk Pertama keraton (Ratu Boko) terdiri dari tiga pintu masuk

Penulis di Gerbang Pintu Masuk Pertama keraton (Ratu Boko) terdiri dari tiga pintu masuk   

 
Pagar perlindungan kraton Ratu Boko tinggi dan kokoh

  • Tempat pengabuan : diperkirakan dipergunakan sebagai tempat kremasi / pengabuan dalam upacara Tawur Agung bagi agama Hindu yang diadakan sehari sebelum Nyepi. Akan tetapi, hal tersebut masih memerlukan penelitian yang mendalam, apakah situs tersebut merupakan tempat kremasi, atau altar, atau kemungkinan merupakan tenpat sesajen.
Salah satu situs dalam keraton Ratu Boko sebagai tempat kremasi (masih dipelajari)
  • Paseban : merupakan ruang tunggu bagi tamu raja. Terdiri dari dua batur, sisi Paseban Timur dan Paseban Barat dan diperkirakan saling berhadapan satu sama lain.

Ruang tunggu tamu raja (paseban) keraton Ratu Boko
  • Pendopo : terdapat di bagian tengah  bangunan yang memiliki pilar dan dinding, dimana diperkirakan terbuat dari bahan yang mudah rusak misal kayu. Oleh karena itu, hanya tersisa batu sebagai sisa bangunan.

Pendopo kraton Ratu Boko tampak luar

Pendopo kraton Ratu Boko tampak dalam
  • Taman Pemandian : dibagi menjadi dua, yaitu utara dan selatan dimana keduanya dipisahkan oleh dinding dan dihubungan oleh gerbang. Pemandian utara berbentuk kotak dengan tujuh kolam dan pemandian selatan terdiri dari 28 kolam.
Kolam Pemandian kraton Ratu Boko
  • Gua : pada situs candi Ratu Boko terdiri dari gua Lanang dan gua Wadon. Penamaan gua tersebut berdasarkan relief pada gua Wadon berupa gambaran alat kelamin wanita (simbol Yoni) di atas pintu, pada umumnya keberadaan Yoni dilengkapi dengan Lingga (alat kelamin laki-laki) yang terdapat pada Gua Lanang. Kedua simbol tersebut erat kaitannya dengan penggambaran dewa Siwa dalam agama Hindu. Persatuan antara Yoni-Lingga menjadi simbol dari kesuburan. 
(Maaf, tidak ada gambar, saya sudah lelah mengelilingi kraton Ratu Boko :( Aku hanya semapat melihat dari kejauhan situs Gua Wadon dan gua Lanang yang besar di bagian paling belakang candi Ratu Boko) 
  •  Keputren : tempat tinggal putri, yang terdiri dari dua batur dan terbuat dari batu andesit.
Salah satu karya seni di bagian keputren kraton Ratu Boko
 Simbol yang menandai adanya toleransi umat beragama Hindu dan Budha terlihat dari penemuan situs stupa di dalam candi Ratu Boko yang masih dalam tahapan ekskavasi. Salah satu sudut yang menarik bagi kita yang ingin mengetahui tentang ekskavasi candi secara langsung.

Salah satu sudut ekskavasi dua stupa di bagian belakang kraton Ratu Boko
Seusai perjalanan kita bisa menikmati panorama dari bukit candi Ratu Boko dengan makanan dan minuman yang tersedia di Restoran Sunset Ratu Boko, dinamai demikian karena pemandangan sunset kota Jogja terlihat indah dari bukit candi Ratu Boko. Akan tetapi, penulis hanya bisa memotret pemandangan kota Jogja tanpa matahari terbenam karena kunjungan yang dilakukan di pagi hari yang sejuk :)

Kota Jogja (agak mendung) dari Resto Sunset Boko

Mengunjungi candi Ratu Boko merupakan pengalaman imajinasi  akan kehidupan dan peradaban keraton Jawa masa lalu.

Salam Budaya !



Bookmark and Share

Menikmati Kelana Ketoprak Jawa di Taman Balekambang, kota Solo




"Ketoprak Balekambang Surakarta berpentas di sebuah gedung kesenian yang terletak di kompleks taman milik Mangkunagaran Surakarta. Pemerintah kota telah memberikan subsidi setiap pertunjukan, namun yang lebih penting adalah semangat berpentas para senimannya" (Dwi Oblo, NGI)

Berbekal rasa penasaran dengan ulasan buklet National Geographic Traveler Mei 2013 tentang Kelana Ketoprak Jawa, membuat aku dan suamiku (Imam) merencanakan liburan akhir pekan di bulan Mei dengan menonton Ketoprak di Taman Balekambang, Kota surakarta.
Informasi tentang waktu dan lakon ketoprak aku cari lewat internet, dan gotcha! ketoprak Balekambang bisa kita nikmati pada malam minggu, jam 20.30. Lakok ketoprak pada akhir pekan itu adalah "Joko suro Leno".
Berada di Taman Balekambang, ditemani NG Traveler Mei 2013 dengan ulasan "Kelana Ketoprak Jawa"
Persiapan penabuh gamelan tanpa perlu baju seragam
Kami sampai di Balekambang jam 20.00 dan membeli tiket ketoprak di depan pintu masuk. Penjual tiket sepertinya anak-anak pemain ketoprak :) dan harga tiket masuk Rp.10.000
Begitu semangatnya, kami langsung masuk, eh ternyata belum ada penonton lain. Kru sedang mempersiapkan gamelan dan setting panggung.
Sebenarnya aku sempat pesimis akan banyak penonton ketoprak di Taman Balekambang, melihat malam itu mulai gerimis dan Taman Balekambang terletak menyudut serta sepi.
Tetapi, beberapa saat kemudian tepat jam 20.30 WIB langsung datang banyak penonton dan ternyata rombongan dari satu RT, wealah jadi ayah, ibu, dan anak-anak satu RT menonton rame-rame :D
Penonton Ketoprak malam itu memenuhi separo kursi penonton
Wah, wah, rasanya senang ternyata masih banyak penikmnat ketoprak Jawa dari berbagai generasi.
Adegan diawali dengan guyonan para emban, menari-nari, selanjutnya masuk ke cerita yaitu tentang Joko suro salah satu raja Blambangan.

Aku kurang bisa mendengar percakapan antar pemain, karena ramai percakapan penonton dengan tetangganya, dan anak-anak yang masih jalan-jalan :D
oke, aku nikmati saja suasana itu.
Tarian, nyanyian, dan guyonan para emban mengawali pementasan ketoprak
Nah, hal yang membuat aku tersenyum adalah setelah beberapa saat ada adegan gelut (berkelahi) anak-anak mulai maju ke depan, bersebelahan dengan para penabuh gamelan.
Mereka begitu memperhatikan perkelahian yang terjadi.
Adegan perkelahian digandrungi oleh anak-anak dengan duduk lesehan
suasana yang terekam olehku bahwa masyarakat di solo masih guyub dan penikmat kesenian Jawa. Terlihat dari begitu antusias mereka menikmati perjalanan lakok dari awal sampai selesai jam 22.30.
Bukan waktu yang cepat, terutama bagi anak-anak, akan tetapi anak-anak mereka pun masih penuh perhatian ke panggung, meski kadang berlarian keluar panggung.



Ketoprak Jawa, Balekambang aku rekomendasikan bagi kalian yang ingin menikmati keberadaan masyarakat solo sesungguhnya, serta menikmati budaya Jawa masyarakat agraris.

Informasi lain tentang Ketoprak Jawa Balekambang "Ketoprak Balekambang Surakarta"

salam budaya tradisional !



Bookmark and Share