Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Menikmati Dieng di Akhir Pekan

Icus - Deta (penulis) - Lilin, di tepi Telaga Warna
Libur akhir pekan telah tiba dan kami pekan ini merencanakan ke Dieng, bertepatan dengan acara seni Simfoni Dieng. Masukan untuk teman-teman lain memiliki niat untuk ke Dieng pertama kali dan bahkan perlu ijin kantor beberapa hari sebelumnya. Saya sarankan untuk merencakan di bulan Agustus. Ternyata di bulan Agustus ada banyak acara di Dieng. Pada bulan Agustus 2014, kegiatan yang bisa dilakukan oleh para wisatawan antara lain : Minggu I, acara pemotongan rambut gimbal dan Simfoni Dieng; tgl 17 Agustus banyak pendaki gunung melakukan pendakian khusus ke Gunung Prau, Wonosobo di malam menjelang tanggal kemerdekan Indonesia, kegiatan-kegiatan di bulan Agustus diakhiri dengan perayaan seni akbar Dieng Culture Festival V dimeriahkan dengan pertunjukan jazz di alam terbuka Telaga Warna dan upacara pemotongan rambut gimbal di Candi Arjuna. 

Akhir Pekan lalu, tepatnya tgl 9-10 Agustus 2014, saya dan suami, serta 2 teman merencanakan menikmati pagelaran sendratari kolaborasi dengan orkerstra dan gamelan di acara Simfoni Dieng. Kami memesan tiket yang kebetulan bisa dibeli di Yogyakarta (tiket VIP Rp. 100.000), langkah kedua adalah mencari homestay, karena saya memperkirakan meskipun Dieng terkenal dengan kota seribu homestay, tapi karena ini merupakan pengalaman pertama, maka saya mempersiapkan dengan browsing tentang homestay-homestay pilihan wisatawan, mulai dari juara lomba I homestay dan pernah diinapi oleh artis ibukota : Homestay Asoka (telpon, dan sudah full booked), yup ganti Homestay Dieng Pass (telpon, dan sudah full booked), Resto dan Hotel Bu Jono juga full booked. Nah, ke Homestay Juara Harapan I Pengelolaan Homestay se-Jawa Tengah, Homestay Dahlia (ternyata masih ada kamar, saya pesan untuk dua kamar (Single Bed untuk dua orang per kamar Rp. 175.000) Oya, tarif homestsay berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Harga Reguler Rp. 150.000, harga Weekend Rp. 175.000, harga sewaktu event special misal Dieng Culture Festival, kamar di Homestay Dahlia sudah fullbooked dengan harga Rp. 300.000. Jadi jangan kaget, jika pas Anda browsing untuk harga homestay akan diperoleh nominal yang berbeda-beda. Pemilik Homestay Dahlia adalah pak Nuryadi dan bu Iin Pangestuti yang bertempat tinggal di lantai dua. Fasilitas homestay Dahlia : air panas (semua homestay di Dieng pasti menyediakan fasilitas air panas ini), teh dan kopi disediakan dan bebas membuat kapanpun juga, televisi dipusatkan di tengah ruangan homestay (sepengetahuan saya dari 10 orang yang menginap hari itu, tidak ada yang melihat TV, karena kami sudah diasyikan dengan mengunjungi berbagai tempat wisata di Dieng). Oya, fasilitas khusus yang secara tidak langsung diterima oleh wisatawan jika menginap di homestay Dahlia, adalah kita dihadapkan dengan area Candi Arjuna (salah satu situs dan candi yang terkenal di Dieng) kami menuju Candi Arjuna melewati jalan kecil di tengah sawah menuju candi. Hal unik dari homestay di Dieng adalah tidak ada satupun homestay yang memiliki pendingin ruangan / AC hehehehe karena suhu ruang di Dieng bahkan lebih dingin daripada AC. 

Oya, kita tidak dapat mengandalkan ketersediaan transportasi umum untuk mencapai tempat-tempat wisata daerah Dieng. Oleh karena itu, disarankan untuk menyewa motor atau membawa mobil pribadi. Kebetulan sekali, pemilik Homestay mempersilahkan kami untuk menyewa motor selama kami di Dieng. Tarif penyewaan motor Rp. 50.000 per hari/motor. Transportasi umum Yogyakarta-Wonosobo hanya bisa dilakukan dengan travel (tidak ada bus untuk rute tersebut). Selanjutnya untuk persiapan kami memilih transportasi travel untuk perjalanan Yogyakarta-Wonosobo dengan Shuttle Elf Sumber Alam (harga tiket Rp. 45.000) keberangkatan pada jam 14.00 dari Terminal Jombor, Yogyakarta, sekalian menitipkan motor di Terminal Jombor. Ternyata perjalanan Yogyakarta-Wonosobo via Salaman, Magelang sangat menantang karena jalanan yang berkelok-kelok didukung dengan suspense mobil yang tidak nyaman. Saya menahan rasa mual. Pilihan saya menggunakan travel karena kami berempat belum ada yang bisa mengendarai mobil ^_^. Apabila Anda atau teman tim bisa mengendarai penggunaan mobil pribadi akan menambah kenyamanan perjalanan Anda.

Agenda acara kita pertama adalah menghadiri acara Simfoni Dieng (9 Agt 2014) di Dieng Plateau Theatre.Perjalanan dari homestay ke Dieng Plateau Theatre (DPT) menggunakan motor sewaan selama 15 menit. Pagelaran ini memiliki konsep cerita tentang awal keberadaan Dieng yang dimeriahkan oleh ratusan penari dengan berbagai kostum, dengan iringan perangkat music orchestra dan gamelan. Area bagi penonton pertunjukan dibagi menjadi dua bagian, yaitu VIP dan festival. Acara ini juga dimeriahkan Yoda Idol (yang tidak hafal lirik dan membawa smartphone untuk membaca lirik (-_-). 
Sebenarnya pertunjukan tersebut mengundang banyak minat wisatawan, karena kebetulan baru kali ini pagelaran Simfoni Dieng diadakan terpisah dari penyelenggaraan Dieng Culture Festival. Akan tetapi, saya merasa bahwa konsep dari sisi koreografer (cerita, tarian, kostum, dan music) bisa lebih ditingkatkan untuk pertunjukan tahun depan. Keterbatasan area pertunjukan DPT membuat situasi panggung sempit. Selain itu, tiang tiang penyangga DPT menyulitkan para fotografer dalam memotret keseluruhan panggung. Apabila, tahun depan diadakan acara yang sama, diharapkan venue yang lebih memadai. Pada acara ini, panitia diharapkan memberikan batasan yang jelas, tidak cukup dengan pita, serta melakukan pengunjung sampai pada kursi pertunjukan yang menjadi hak mereka. Banyak pengunjung kelas Festival yang berada di kursi kelas VIP (sengaja atau tidak sengaja), sehingga banyak pengunjung kelas VIP tidak kebagian tempat duduk. Apabila di setiap area kelas terdapat panitia pengatur pertunjukkan maka kejadian tersebut dapat diminimalkan. 


Penari Simfoni Dieng 2014 - penggambaran gerak petani bahagia  
Ketangguhan dan Kemantapan langkah penari Simfoni Dieng 2014

Penari Simfoni Dieng 2014 dalam gerakan perang

Rencana kami keesokan harinya menikmati golden sunrise di Bukit Sikunir, Dusun Sembungan, Dieng. Berdasarkan informasi dari pak Nuryadi kami maksimal mulai berangkat dari homestay jam 04.00 supaya bisa mendapatkan moment terbit matahari di Bukit Sikunir (2400 m dpl) yang masih masuk daerah Dusun Sembungan (desa tertinggi di Jawa). Perjalanan dari homestay ke Bukit Sikunir kurang lebih 30 menit, karena udara yang sangat dingin dan jalan dari Kawah Sikidang ke Bukit Sikunir sangat rusak. Penggunaan motor matic dengan body diperpendek cukup menyulitkan kami melalui rute tersebut. Ketika mulai masuk daerah Bukit Sikunir kami membayar tiket masuk Rp. 5000/orang, selanjutnya perjalanan kurang lebih 5 menit kami ditarik karcis parkir motor Rp. 2000/motor. Persiapan yang perlu Anda lakukan sebelum mendaki Bukit Sikunir antara lain : pakaian hangat (jaket dan selendang leher), celana gunung (penggunaan celana jeans akan menyulitkan gerak dan membuat semakin dingin), penutup kepala, kaos tangan, sandal bergerigi atau sepatu kets. Meskipun dengan sandal wedges pun saya yakin Anda bisa mendaki, karena saat itu saya melihat ada beberapa perempuan menggunakan wedges saat mendaki (tapi saya tidak bisa membayangkan sakitnya kaki menggunakan wedges saat mendaki, hehehehe). 

Perjalanan dari kaki sampai ke puncak Bukit kurang lebih 30 menit (perjalanan santai, diselingi istirahat di beberapa titik, maklum tidak pernah mendaki bukit atau gunung sebelumnya, hehehe). Mungkin Anda berpikir, hanya anak-anak muda yang merencakan agenda ini. Ternyata ada orang tua dengan anaknya, bahkan kakek dengan anak dan cucunya mendaki bersama. Kami bertemu di puncak dengan para bapak, ibu dan kakek. Jadi, jika Anda masih muda, cobalah untuk menikmati matahari terbit di atas Bukit Sikunir, cahaya merah oranya, semburat mengawali sebelum bulatan matahari muncul sedikit demi sedikit di batas cahaya, dengan latar belakang gunung gemunung dan bukit-bukit, serta hamparan awan putih. Anda masuk dalam bingkai alam, mengawali hari.


menikmati munculnya matahari dari Bukit Sikunir
Matahari pagi bersanding dengan putih awan dan gunung Sindoro
- golden sunrise, 10 Agt 2014, Bukit Sikunir -
Penting untuk diperhatikan, karena pengunjung Bukit Sikunir di akhir pekan sangat banyak, sangat bijak apabila Anda menikmati terbit matahari tanpa merokok, keterbatasan udara di atas bukit ketinggian 2400an meter dpl tersebut akan membuat para pengunjung akan merasa sangat terganggu karena oksigen yang seharusnya mereka hirup di udara yang sejuk itu, dikotori oleh karbondioksida dan gas beracun dari asap rokok Anda. Bagi saya, omong kosong Anda mensyukuri alam dengan mendaki di atas bukit atau gunung, apabila Anda tidak memperhatikan kebutuhan sesama untuk mendapatkan udara bersih dan sehat. Setelah menikmati keindahan matahari terbit selama 1 jam, kami turun kembali ke kaki bukit dan disambut dengan pertunjukkan musik tradisional di dekat telaga. Sembari menunggu kedua teman kami, maka saya memesan teh hangat di warung serta makan kentang balado. Beberapa wisatawan lain menikmati pop mie hangat. 

Perjalanan obyek wisata berikutnya adalah Telaga Warna, karena obyek tersebut kami lewati sepulang dari bukit Sikunir. Telaga warna memiliki landskap danau yang indah, hanya saja keindahannya agak terganggu oleh sampah dan air yang berbau. Sehingga saya merasa kurang nyaman berada di tepi danau, kecuali untuk berpose saja. 

Ternyata udara dingin, membuat kami mudah kelaparan, hehehehe. Perjalanan pulang pun diselingi dengan makan pagi. Sebenarnya kami ingin makan pagi di Resto Bu Jono yang lumayan terkenal oleh para backpacker dan pernah masuk liputan televisi, tapi ternyata jam 07.00 resto bu Jono masih tutup. Akhirnya, kami ke Rumah Makan Bu Mien, di belakang resto bu Jono. Menu yang disediakan lengkap dari nasi rames, lauk dan sayur baru saja selesai dimasak, serta mie dan nasi goreng. Harga mie dan nasi goreng dalam kisaran Rp. 12.000 – Rp. 17.000. Kami kembali ke homestay jam 09.30, selanjutnya mandi dan packing. Agenda selanjutnya mengunjungi kompleks Candi Arjuna. Kami berjalan melewati pematang sawah di depan homestay menuju Candi Arjuna. Sebenarnya, rute ini bukan rute resmi, kami mengetahui dari obrolan dengan bapak-bapak di depan homestay “lewat, mrika kemawon mbak, nyebrang sawah. Mlebet candi gratis. Manawi lewat gerbang, mangke mbayar mbak” oke deh, kami manut pak ^_^ 

Candi Arjuna terdiri dari sebuah candi utuh, dan beberapa situs candi yang belum lengkap. Secara keseluruhan sebenarnya landskap Candi Arjuna sangat menarik, karena latar belakang bukit-bukit. Serta area candi yang luas. Candi Arjuna merupakan salah satu ikon wisata Dieng, nampak dari perhelatan utama untuk tradisi pemotongan rambut gimbal di Dieng Culture Festival mengambil venue tempat tersebut.
Jasa foto bersama (Rp. 5000/foto) dengan makhluk mitologi Jawa (butho), Anoman, dan teletubies memeriahkan suasana sekitar candi. Interaksi dengan petani di sekitar candi juga sangat mengasyikan, banyak cerita tentang perjuangan mereka bercocok tanam wortel yang terkadang gagal karena hujan es. 

Butho dan Anoman di Candi Arjuna

Butho dalam balutan topeng, setia menunggu pelanggan

Keluarga Pak Sunyoto, salah satu dari
ekian petani wortel di sekitar Candi Arjuna

senyum pak Sunyoto untuk memulai menggarap
lahan wortel yang telah gagal bulan lalu

Navis (5 tahun), cucu pak Sunyoto, salah satu cah Gimbal
ujarnya "jika kelak dipotong, dia hanya ingin dua buah es"

Setelah puas menikmati candi Arjuna, kami segera merencanakan untuk segera pulang ke Yogyakarta. Perjalanan diawali dengan menunggu bus umum di pertigaan Dieng (depan Indomaret) dengan biaya Rp. 12.500 kami menuju Wonosobo kurang lebih 1 jam. Tujuan kami adalah Agen bus Sumber Alam, untuk sarana transportasi kembali ke Yogyakarta. Kami sengaja tidak memesan tiket Sumber Alam terlebih dahulu karena kami belum bisa memprediksi waktu selesai pendakian Bukit dan mengeksplorasi Candi Arjuna, serta lama perjalanan bus kota. Risiko yang terjadi dan sudah menjadi perhitungan adalah kami tidak memperoleh tiket travel ke Yogyakarta. Syukurlah, saya meminta nomor telpon sopir sewaktu kami menggunakan taksi dari Wonosobo ke Dieng. Sehingga, kami mencoba menghubungi sopir tersebut dan meminta informasi tentang ketersediaan taksi ke Yogyakarta. Akhirnya, kami memperoleh taksi kembali ke Yogyakarta dengan tarif Rp. 450.000 (nego). 

Oya, kami pun minta tolong mas Dwi (sopir taksi) untuk mengantarkan kami ke toko oleh-oleh, karena kami berniat membeli carica dan keripik jamur. Toko oleh-oleh menyediakan banyak merk carica dari harga Rp. 25.000 – 65.000 per dus. Rasa carica merk satu dengan yang lain hampir sama, dan harga keripik jamur tiram Rp. 14.000, jamur kuping Rp. 20.000. Perjalanan Wonosobo-Yogyakarta via taksi berlangsung selama 3 jam, tentunya dengan tempat duduk yang lebih lega dan nyaman. 

Resume transportasi, akomodasi, dan logistik liburan Yogyakarta-Dieng 2 hari 1 malam, yaitu :
  1. Transportasi Yogyakarta – Wonosobo dengan travel Sumber Alam Rp. 45.000 
  2. Transportasi Wonosobo – Dieng menggunakan DNA Taksi Wonosobo Rp. 120.000 (argometer)
  3. Homestay Dahlian Rp. 175.000/malam
  4. Sewa motor Rp. 50.000/motor (tidak termasuk bensin)
  5. Makan pagi di Rm. Bu Mien Rp. 15.000 (mie goreng jamur)
  6. Transportasi Dieng – Wonosobo dengan bus kota Rp. 12.500/orang
  7. Transportasi Wonosobo – Yogyakarta dengan DNA Taksi Wonosobo Rp. 450.000
Selamat menikmati keindahan Nusantara, keindahan Jawa Tengah, keindahan Dieng ^_^
Salam santai.....



Bookmark and Share

Kisah Ziarah di Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono

“Gedono” tempat itu seakan-akan ada di kepalaku beberapa hari itu. Keinginanku menuju Gedono sebenarnya diawali dengan melihat foto timeline facebook temanku tentang arsitektur yang cantik di sana dan kata temanku kefir yang nikmat. Kefir adalah salah satu jenis minuman probiotik yang diolah oleh suster-suster Gedono dengan bahan alami. Nah, aku menganggap jika Gedono layak masuk daftar tempat wisata kuliner dan ditambah-tambahi dengan wisata rohani. Jadi sebenarnya porsi rohani lebih sedikit daripada wisatanya, hehehehe ^_^ 

Akan tetapi anggapan itu berubah setelah suamiku membelikanku buku dari tokoh favorit inspiratif Romo Mangun dengan judul Wastu Citra. Keinginanku memiliki buku itu karena aku mencoba memahami sosok Romo Mangun sebagai seorang arsitek bukan sebagai biarawan. Tetapi ternyata image beliau tidak bisa lepas dari perenungan yang mendalam dalam merancang sebuah bangunan. Nah, salah satunya adalah kupasan beliau tentang pembangunan Gedono, pas sekali dengan rasa penasaranku, selanjutnya aku merasa bahwa aku perlu mengunjungi tempat ini untuk memuaskan keinginanku dalam meraba dan menapaki segala bentuk hasil perenungan Romo Mangun dalam pembangunan Gedono sekaligus memberikan waktu dalam keheningan. 

Langkah berikutnya adalah pencarian informasi bagaimana cara ke sana tentu saja melalui googling :)
  1. Perjalanan Yogyakarta-Gedono (salatiga) bisa dilakukan dengan beberapa cara melalui agen perjalanan rohani atau mandiri. Rencana kami menggunakan agen perjalanan rohani dengan alasan kami berangkat sabtu jam 16.00 sore dan kemungkinan sampai Gedono malam hari. Berdasarkan informasi yang akau peroleh letak Gedono di dataran tinggi jauh dari akses transportasi, selain itu kami juga belum pernah ke Gedono. Dan kebetulan bulan November adalah musim hujan jadi meminimalkan ribetnya perjalanan dan efisiensi waktu maka kami putuskan menggunakan agen perjalanan wisata rohani dari Yogya salah satunya adalah Ventera Tour link : http://venteratour.weebly.com/ Biaya perjalanan kami (aku dan suami) adalah Rp, 350.000,00 sudah termasuk sopir dan bahan bakar. Jika dibandingan dengan perjalanan menggunakan bus, tentu harga jauh berbeda. Akan tetapi, sebagai cara efisiensi waktu dan tenaga pilihan agen perjalanan bisa dipertimbangkan.
  2. Tiba pada hari H, sopir menjemput kami di rumah dengan mobil Toyota Avansa tepat pada pukul 16.00 dan ternyata memang agen Ventera Tour biasa melayani perjalanan ke Gedono, sehingga kami mendapatkan rute yang lebih singkat melalui Jatinom, Klaten. Jalur yang kami lalui di awal perjalanan nampak baik, akan tetapi memasuki wilayah Jatinom, jalanan mulai rusak dan sebagian besar bisa dianggap rusak parah karena jalan tersebut merupakan akses utama bagi truk pengangkut pasir. Tanpa terasa perjalanan sampai di jalan masuk menuju Gedono (merupakan perbatasan Salatiga – Semarang) dan tiba di Gedono pada pukul 18.45 Kebetulan pintu ruang makan belum ditutup (diberitahukan sebelumnya jika Ruang Makan Pertapaan Gedono tutup pada pukul 19.00, sehingga sebelumnya kami disarankan untuk makan malam dahulu jaga-jaga jika pintu Ruang Makan tutup ^_^ 
  3. Langsung setelah makan malam , kami diminta untuk ikut doa malam pada pukul 19.00 di Kapel dan selanjutnya diantar ke kamar penginapan. 
  4. Kebetulan kami memesan kamar untuk menginap di pertapaan (2 minggu sebelumnya) dengan tujuan untuk mendapatkan keheningan dari rutinitas dan belajar hening bersama dengan suster-suster. Sehingga kami memang sudah memiliki niat untuk mengikuti segala ibadat doa yang dilakukan. Suster-suster di Pertapaan Gedono melakukan ibadat doa tujuh kali dalam sehari dimulai dari doa singkat hingga doa dengan waktu hening. Menurutku doa yang paling berat adalah doa saat “berjaga-jaga” yang dilakukan pada jam 03.15 – 05.00 karena pada jam-jam tersebut merupakan jam yang biasa untuk tidur dan dingin udara di sekitar Pertapaan. Kesanku setelah mengikuti dua ibadat jam 19.00 dan 03.15 adalah keheningan dan tempo lambat mendukung dalam perhatian dan fokus dalam doa. 
  5. Pagi hari kami makan pagi bersama dengan rekan-rekan lain di Ruang Makan, tentunya dengan masakan para suster dan sayuran organic segar. Karena hari itu, hari Minggu acara dilanjutkan dengan doa pagi dan ibadat misa. 
  6. Setelah misa, kami menuju ke Toko Pertapaan Gedono yang ternyata telah banyak dikunjungi umat. Produk makanan minuman hasil racikan suster-suster laris manis, antara lain roti khas Gedono (dari remukan hosti), selai strawberi, selai jambu, roti kering, dan tidak ketinggalan kefir. Sebenarnya ada roti basah, akan tetapi ternyata roti basah sudah laris dibawa untuk diedarkan di sekitar Gua Maria Ambarawa. 
  7. Setelah usai berbelanja (oleh-oleh masuk dalam daftar) kami bersiap untuk pulang kembali ke Yogyakarta, tentu saja dengan transportasi umum. Karena kami tidak terpancang untuk waktu harus sampai di Yogya, jadi kami lalui agenda perjalanan pulang dengan santai. Kemungkinan juga karena efek dari keheningan dalam sehari di Pertapaan Gedono, hehehehe 
  8. Karena jalan dari Pertapaan Gedono ke Terminal Tingkir merupakan area masuk pedesaan maka tidak ada kendaraan yang tersedia langsung, sehingga kami meminta nomor kontak tukang ojek ke Suster Thres. Biaya ojek Pertapaan Gedono – Terminal Tingkir Rp. 15.000,00 dan kami langsung naik bus ke Solo Rp. 10.000,- ; selanjutnya naik bus Solo-Yogya Rp. 10.000,-  
 Ibadat Malam di Kapel Bunda Pemersatu Gedono
Selasar Gedono di malam hari
 
Bunda Maria Kapel Bunda Pemersatu Gedono

Tempat Tidur di Penginapan Tamu Pertapaan Gedono

 
Jadwal Acara Ibadat Harian di Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono
Ruang Makan di Pertapaan Gedono

Aku menyiapkan makan pagi :-)

Roti dengan butir coklat dan selai strawbery asli Gedono

Minuman Khas Pertapaan Gedono "Kefir Gedono"

Roti kering khas dari Pertapaan Gedono

Selai strawbery khas Gedono tanpa bahan pengawet

Kesibukan suster trapist melayani pembeli di toko

Pertapaan Gedono sangat direkomendasikan bagi yang mengharapkan suasana hening dalam doa. Bagi yang mengharapkan intropeksi atau merindukan keheningan dalam doa dan masmur. Pertapaan Gedono juga direkomendasikan bagi penikmat bangunan arsitektur berkarakter. Semoga dengan posting ini kalian juga tertular untuk datang di Pertapaan Gedono ^_^ 

Oya, saya sertakan juga beberapa nomor kontak yang mungkin bisa membantu kamu dalam merencanakan perencanaan ke Pertapaan Gedono. 

  • Agen Tour Ziarah Yogyakarta (Ventera) = 0817467518 
  • Suster Thres Pertapaan Gedono = 0811278299 
  • Pertapaan Gedono = 0298 7100615 (Bagi yang berminat menginap di Pertapaan Gedono diharapkan menghubungi minimal 2 minggu sebelumnya dan diharapkan menghubungi suster selain jam doa)
  • Ojek Pertapaan Gedono – Terminal Tingkir (pak Sutari) = 081904860591 
 
Aku dengan latar belakang eksterior bangunan Pertapaan Gedono




salam ziarah


 
Bookmark and Share

Buah Durian Ngantang (Malang Barat)

Tentang durian,hmmmm...saya sebenarnya tidak menyukai bau dan rasanya. Sudah sering mencoba beberapa kali, tetap saja belum menemukan jawaban mengapa banyak orang menyukai buah tersebut. Tadi sore, Iboed, pergi ke Kediri, dan memberikan kabar di Ngantang panen durian, banyak dijajakan oleh anak-anak, dimana di tengah hujan deras mereka tetap menjualnya. Penasaran, karena setahuku Malang terkenal dengan buah apelnya, kok, ini ada buah durian? Apakah durian Ngantang punya ciri khas sendiri?
Ternyata, setelah membaca beberapa artikel tentang durian Ngantang, buah durian tsb memiliki kekhasan di rasa dan warna, bahkan menjadi buah durian favorit Pak Presiden, Susilo Bambang Y. Hasil penelitian (dilaporkan Antara) tim Fak. Pertanian Universitas Brawijaya berhasil menemukan varietas unggul serta berhasil mengembangkan 1000 bibit unggul durian jingga itu. Ada 65000 pohon durian aneka jenis di Kecamatan Ngantang dan Kecamatan Bontang, Kabupaten Malang (barat).Wuaaaaa.....terminal durian Jawa :D

Sego Kucing dan Angkringan


Mengingat tempat itu.

Di sebelah selatan bangunan, yang dikenal sebagai gereja kaum muda di kota Yogya ada tempat panganan dan wedangan. ‘Angkringan’ sebutan orang Yogya, sedangkan di Solo dikenal dengan nama ‘Hik’. Lengkap dengan nasi bungkus yang dikemas minimalis, sate (ayam, rempelo ati, bahkan di Solo ada beberapa wedangan yang terkenal dengan sate babi), camilan kriuk-kriuk aneka warna, minuman hangat (mulai dengan teh, jeruk, susu, jahe, kopi, bahkan ada menawarkan kopi spesial dengan arang membaranya). Kembali ke angkringan di sisi gereja itu, hanya tempat biasa, tapi spesial buat aku. Tiga tahun lalu, seringkali aku menghabiskan waktu menjelang malam di sana, sepulang dari kerja sebagai guru privat. Minuman kesukaanku, jahe panas. Saat ingin saling berbagi cerita dengan adik perempuanku, seusai misa sore. Selain aku, pacarku, juga menyukai suasana angkringan. Di angkringan itu, saat aku sedang sedih, aku merasakan kesedihan dan kesendirian, bersamaan dengan itu, aku pun merasa bahwa aku tidak sedang sendiri. Temaram lampu minyak yang dihadirkan bersama dengan hangat wedangan dan guyonan-guyonan, menemaniku. Terlebih jika, penjual angkringan ’wong sepuh’ aku merasa lebih nyaman, tidak tahu mengapa (mungkin karena aku masuk dalam kelompok ’oldiest’ menurut angket yang diajukan temanku, hehehe J)

Angkringan menurutku :

1. Tempat yang sederhana, berupa gerobak kayu, kursi kayu, lampu minyak.
2. Tempat yang lebih banyak mendapat penerangan dari sorot lampu kendaraan di
jalanan. Menjadikannya layaknya di ’pub’ dengan sorot lampu putih, kuning, bergantian.
3. Suasana malam, dominan gelap di angkringan, membuat kita mencari kesamaan gelapnya, dengan bagian yang ada di semesta. Biasanya, aku menyamakannya dengan langit malam, karena secara spontan saat berada di angkringan, aku melihat ke atas, mencari bintang, dan akan tersenyum lebar, jika ternyata kudapat bonus bulan purnama.
4. Orang yang mau tidak mau akan menampilkan dirinya apa adanya, sosok penjaga malam dengan kostumnya, anak kost dengan gaya lahap makannya, bapak-bapak kampung dengan kenyamanannya menyeruput kopi dan hembusan asap rokoknya, pasangan kekasih yang mencoba menyamankan pasangannya (keterangan tambahan; pasangannya belum pernah ke angkringan), bahkan pasangan yang dengan santainya bercerita satu sama lain (karena keduanya memang penikmat ankringan)
5. Jarang sekali dijumpai pengamen di angkringan, karena memang angkringan biasa di-ekuivalenkan dengan kelas menengah ke bawah(meskipun aku menyangsikan itu, karena setelah dihitung-hitung, makan di angkringan lebih mahal daripada beli langsung nasi rames di warung – jika kamu tergiur dengan kelengkapan lauk pauk yang disediakan)
6. Banyak sekali variasi lauk pauk dan minuman di angkringan, biasanya jika kita makan di kaki lima, minuman yang umum adalah es teh, teh anget, es jeruk, jeruk anget. Tapi di angkringan, minuman wajib mereka lebih banyak selain empat minuman di atas atas kopi, susu, jahe, kopi jahe, kopi susu, teh jahe, susu jahe (bersukarialah membuat kombinasi minuman di angkringan, dengan senang hati sang penjual akan menyediakannya) Itu baru minuman, belum makanan...hmmm...ada banyak macam nasi ’kucing’ sebutan nasi bungkus kecil, yang isinya nasi sambel, nasi sayur, atau nasi dengan oseng tempe. Satu tidak akan mencukupi perut normal, kecuali jika kau menambahkannya dengan gorengan atau bakaran yang disediakan (sate usus, sate rempela ati, sate daging ayam, tempe tahu bacem, goreng, bakwan, timus (gorengan ketela), pisang goreng, jadah goreng, ’gembus’ goreng, variasi kerupuk kriuknya (apalagi ya?? Oya, babi penggemar daging babi, disediakan pula sate babi, di angkringan/hik di kota Solo, di depan Toko Roti Ganep’s, daerah pasar Legi)
7. silahkan tambahkan alasan kawan-kawan tentang angkringan/hik
8. sekedar pengin tahu, khususnya dari kawan yang pernah mengetahui gerobak makan, identik dengan angkringan/hik di daerah lain.